Remaja Putus Cinta, Yuk Jadi Orangtua Bijak!

Saat ini, posisi kita memang sebagai orangtua, tapi ingatlah bahwa kita juga pernah menjalani masa remaja. Bahkan, kita mungkin masih ingat akan kisah cinta pertama, serta merasakan akhir yang pahit dari sebuah hubungan, tepatnya remaja putus cinta. Dan perlu dipahami dari dulu hingga kini, bagi seorang remaja, putus cinta bisa terasa seperti akhir dari segalanya. Sepertinya tidak ada lagi harapan yang tersisa untuk masa depan, dan seorang remaja selalu yakin bahwa setelah dia putus, dia tidak akan pernah dapat menemukan cinta sejati selamanya. That's for teens. 

Remaja putis cinta

Nah, kita pasti paham akan hal tersebut karena sedikit banyak pernah mengalaminya. Namun, bukan itu akan kita bahas saat ini. Yang paling penting adalah bagaimana kita membantu putra atau putri kita yang sedang tumbuh menjadi remaja agar tetap melanjutkan hidupnya setelah merasakan yang namanya patah hati. Don't worry, saya akan memberi tahu caranya. Berikut adalah kumpulan tips parenting for teens oleh Mualimah untuk menangani patah hati pada remaja.

Membantu Remaja (Putra) Mengatasi Patah Hati

Dalam usia berapapun, yang namanya putus cinta itu memang sulit sekali diatasi, apalagi yahg mengalaminya adalah kalangan remaja. Jika kita memiliki seorang putra (remaja) dan dia sedang mengalaminya, pastikan kita mengerti dan memahami kondisinya. Namun, perhatikan dulu hal-hal ini:

Buatlah dia mengerti bahwa sembuh itu perlu waktu

Beri tahulah si anak bahwa memulihkan dan menstabilkan perasaan setelah patah hati itu cukup memakan waktu. Dia telah mengorbankan cukup banyak waktu dan perasaannya dalam hubungan tersebut, jadi pasti butuh waktu untuk menormalkan perasaannya kembali. Ya, dia tak bisa instan menyulap hidupnya membaik setelah semua yang terjadi. So, buatlah dia mengerti akan hak tersebut dan yakinkan bahwa nanti akan membaik seperti mulanya. 

Memancingnya untuk mau berbicara dan berbagi

Jika remaja telah mengalami sakitnya putus cinta, maka dia umumnya akan melakukan 2 hal, murung atau meraung. That's commonly happens. Saat mengalami hal seperti, maka obat termujarab yakni berbagi perasaan yang terdalam dan terpendam entah dengan teman dekatnya ataupun dengan orangtuanya. Inilah kesempatan kita untuk memperkuat ikatan kembali. 

Buatlah si anak untuk berbicara dan berkomunikasi, namun bukan dengan cara memaksanya. Jika kita mau berbagi dan memperkuat ikatan kepercayaan sekaligus persahabatan dengan nya, maka akan terasa mudah sekali untuk memancingnya berbicara dan mencurahkan apa yang dialaminya. Berbagi tentang perasaannya dalam hal apapun terlebih mengenai rasa sakit hati dan kekecewaannya akan membantunya lebih cepat membaik. 

Perhatikanlah rutinitasnya

Setelah mengalami sakitnya patah hati, dia mungkin tidak dapat mengikuti atau menjalankan rutinitas sebelumnya tepat setelah tragedi tersebut. Namun, sangat penting untuk memastikan bahwa ada suatu disiplin dan ketentuan dalam tiap rutinitas atau aktivitas sehari-hari. Dengan menjalankan rutinitas normal sepanjang hari akan membantunya mengobati patah hati dengan lebih baik. Dia pun akan mendapatkan lebih sedikit waktu untuk berdiam diri dan memikirkan kepahitan tersebut. Ketika dia telah disibukkan dengan kegiatan sehari-hari, perasaan tertekannya akan sedikit berkurang dan berangsur sembuh. 

Membantu Remaja (Putri) Mengatasi Putus Cinta

Berikut adalah beberapa cara untuk membantu sang tuan putri mengatasi fase putus cinta:

Hapus dan blokir si Doi di media sosial

Hal penting yang wajib kita sampaikan ke si gadis setelah mengalami putus cinta adalah memblokir mantan dari semua media sosial. Dengan cara ini, mungkin saja dia merasa bahwa doa tak.akan pernah bisa lagi berjumpa dengannya atau sekedar bertukar kabar. Namun, cara ini akan membantu menghindarkan dirinya dari situasi yang buruk dan tidak menyenangkan di kemudian hari ketika dia tiba-tiba merasakan dorongan untuk berhubungan dengan mantan kembali atau bahkan mengatakan sesuatu di media sosial yang dapat berdampak negatif.

Biarkan menangis (jika perlu)

Seorang gadis mungkin merasa bahwa dia sudah dewasa dan tidak boleh menangis, dan tanpa sadar kita juga mungkin telah menyuruhnya untuk berhenti bermuram durja dan menangisi semua yang telah terjadi. Namun, itu bukan berarti bahwa dia tidak boleh mengungkapkan perasaannya. Jika dia merasa ingin menangis, biarkan dia menangis sekuat tenaga dan mengeluarkan semua emosinya agar lebih lega. Tak apa jika dia ingin menangis kapan pun. Pastikan saja bahwa dia benar-benar lega perasaannya dan nantinya dapat berkonsentrasi pada hal-hal lain juga. Ingat, butuh waktu untuk menyembuhkan remaja putus cinta. 

Hindarkan dia dari segala informasi tentang si mantan

Bagi seorang gadis yang sedang muram durja akibat putus cinta, berkepo roa dengan kehidupan si mantan itu siatu keharusan. Ya, kebanyakan para gadis itu akan mencari tahu apa yang sedang si mantan lakukan sekarang dan apakah sudah ada orang baru dalam hatinya. Namun,  demi kebaikan si anak yang sedang patah hati, sebaiknya dia tidak lagi mengorek info apapun tentang mantannya. 

Jika kita (orangtuanya) mendapati dia selalu membicarakan mantannya, mencari info tentangnya terus-menerus bahkan hingga detik ini, terutama segala sesuatu yang terjadi dengan kehidupan sang mantan saat ini, katakan padanya bahwa hal tersebut sangatlah tak bagus dan dia harus segera berhenti memikirkan masa lalunya itu. Jika dia belum berhenti memikirkan sang mantan, dia tidak akan pernah bisa melanjutkan hidupnya. Camkan itu!

Nha lho.. dulu kita harus belajar mengatasi sakit hati saat putus cinta, tapi sekarang tugas kita pun masih sama. Terapkan cara-cara tersebut untuk membantu memulihkan kehidupan remaja putus cinta agar bisa stabil seperti sedia kala. Patah hati tak boleh mematahkan perjalan hidupnya. So, keep spirit!
Mualimah Saya adalah ibu 1 anak yang begitu cinta dengan dunia anak dan pendidikan

14 Komentar untuk "Remaja Putus Cinta, Yuk Jadi Orangtua Bijak!"

  1. kadang anak anak remaja terutama cowok itu lebih mau cerita ke temen dari pada ke orang tua , gmn ya mom untuk mengatasi nya .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu artinya pondasi kepercayaan anak dan orangtua belum kuat. Coba deh kita bangun lagi bonding itu seperti saat dia masih balita. Lambat laun, dia akan memahami kalau tempat terbaik untuk mencurahkan perasaan (selain Tuhan) itu orangtua.

      Hapus
  2. Setahu Jagoan Banten , hubungan asmara remaja skrg sudah sangat parah, seks bebas bagian dr hubungan asmara yg mereka bangun, demi Allah, akan lebih baik ajarkan anak kita untuk TDK berpacaran ...
    Semoga anak2 kita dinlindungi Allah. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sekali. Tapi postingan ini bukan bermaksud menyetujui "berpacaran" ya. Hanya saja, seketat2nya kita memberi peraturan, ada kalanya kita lengah dan tau2 si anak sudah patah hati. Saat sudah menyadarinya, yuk rangkul si anak dan membuatnya mengerti bahwa yg dilakukan bukanlah perkara baik. 😊

      Hapus
  3. Setuju.... patah hati tak boleh mematahkan semangatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampai ya.. perjalanan masih panjang😊πŸ’ͺ

      Hapus
  4. Itulah akibatnya menjadi seorang bucin.. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜

    BalasHapus
  5. Kadang yang dibutuhin anak emang orangtua yang mengerti dan suportibe bukan yg judge mental. Bahkan disaat putus cinta

    BalasHapus
  6. Salah satu opsi biar anak-anak remaja tidak patah hati, berikan edukasi bahwa pacaran itu banyak hal negatifnya dari pada positif nya

    BalasHapus
  7. Betul banget nih...jangan sampe anak masuk dalam lingkaran ini...anak remaja mending di arahkan ke agama

    BalasHapus
  8. Iya nih, aku lagi siapin mental aja gitu sebelum nikah. Buat bisa mendidik anak dengan baik dan tepat di jaman sekarang huhu

    BalasHapus
  9. Jangankan remaja. Bahkan yang sudah dewasa perlu diingatkan ketika mengalami putus cinta. Hehehe

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel